Aku baru saja menontonnya dan pikiran ku dibawanya melayang akan bayanganmu. Seperti awal perkenalan kita yang penuh misteri dan memompa imajenasi kita pada kerinduan sosok terindah.
Namun memang hidup ini bukanlah film dan bukan dunia imajiner yang kita ciptakan lewat komputer, namun hal itu cukup membuat hati ini nyaman dan dipenuhi harapan setiap bangun pagi. Memainkan kesabaran kita untuk melihat isi ‘ inbox‘, adakah e-mail untuk ku hari ini yang dapat menghiasi indahnya hari-hari yang ku lalui.
Aku sadar akan hebatnya dunia maya ini membius ku, memberikan identitas baru yang diimpikan oleh setiap orang. Memanipulasi diri bagai pangeran yang akan datang menjemputmu, kelak menyambut peraduan ditengah bunga yang bermekaran.
Masihkah ada ‘tunah hijau’ itu, setelah semua kutelanjangi diriku bahwa aku bukan pangeran itu? Namun engkau tetaplah putri yang kuimpikan, engkau tetaplah ibu yang akan melahirkan ‘tunas hijau’ itu.
Mungkin aku bermimpi, tapi ini begitu nyata bagiku. Setelah semua jalan hidupku, justru menambah tajam intuisi ku, rasa jiwa ku dan bukan sebaliknya memaksa diri menjadi orang yang selalu mencoba merasionalisasi segala hal. Karena pikiran jenius sekalipun tidak akan dapat menemukan jawaban atas misteri ini. Lihat saja, berapa banyak orang yang pintar di dunia ini, tapi lebih baik kah wajah kemanusiaan? Karena rasa cinta dan kemanusiaan tidak dapat dinilai dengan isi kepala tapi harus disentuh dengan hati.
Aku rindu hangat mu! Ya, aku merindukannya dan membuat ku semakin sadar engkau semakin menjauh. Dan aku tak akan meratapi semua, berjalanlah matahari ku dan simpan dalam-dalam ‘tunas hijau’ yang tak akan pernah terlahir itu. Jika kelak engkau ingin kembali, engkau telah tahu dimana aku. Di sawah yang kusemai dalam hati kita……
31 Desember 2007
