Mozaik Tak Terangkai
Hembusan nafas di pagi ini, ditengah hujan dan petir yang menggelegar, memaksa kita untuk tidak beraktifitas diluar rumah. Aku masih duduk dikamar, ditemani sebatang rokok dan kopi, teman setia setiap pagi, menerawang mimpi yang tiada berbekas. Tapi potongan-potongan mimpi itu masih dapat kurangkai dan kuambil benang merahnya. Aku rindu pada kehangatanmu sebelum kita bertemu, aku rindu rangkaian kata mu ketika bercerita, aku rindu desah nafas dan nada suara mu yang tegas…..
Berhenti menekan huruf sambil menghisap tembakau ini dalam-dalam. Mencoba mengalirkan emosi yang bercampur tidak tertata. Sesekali kulirik buku merah pemberianmu yang bertumpuk diantara buku-buku usang diatas meja. Sungguh aku tak tahu mengapa kita harus saling mengenal, mengapa jiwa ini menjadi semakin rapuh….
Aku yang dulu begitu tegar, beku dan tidak pernah hirau dengan emosi jiwa. Aktivitas sosial jauh lebih membuatku puas dan melahirkan harapan pada mata orang yang tadinya muram membuat hidupku bersemangat. Tapi….setelah aku mencoba merangkai hati ini aku menjadi tidak rasional, seperti dua mata belati. Menghias semuanya menjadi semakin indah, atau meleburkan mosaik-mosaik itu menjadi pecahan kaca tak bermakna.
Saat ini aku semakin sadar bahwa engkau bukanlah belahan jiwa yang selama ini kucari. Walau emosi kita terkait, walau perjalanan hidup kita yang mirip, walau engkau mengungkapkan kalau kita adalah ’anak kembar yang terpisah’, aku coba untuk membenamkan semua ungkapan itu. Karena aku sadar jika emosi itu dinamis, apalagi setelah perjumpaan yang sama sekali tidak hangat dan jauh dari imajenasimu. Tapi aku masih punya beberapa janji, meski bukan pada dirimu sendiri. Janji pada ’mama’ untuk datang jika aku ke jakarta….’janji’ untuk menjaga tunas kita sampai engkau putuskan laki-laki itu dengan ’dewasa’….’janji’ akan menunggu waktu yang tepat untuk bersama meski harus tiga tahun lagi……Aku sendiri tidak yakin dapat memenuhi janji ini jika engkau selalu menghindar dan membeku kan diri mu dari segala sesuatu tentang aku. Yang aku butuhkan sekarang adalah engkau berkata, ’benamkan’ atau ’semaikan’…..
Memang tidak mudah memberikan satu pilihan yang sama susahnya, dan terkadang kita ingin merangkul semuanya. Karena akan bermanfaat pada moment-moment tertentu, ataupun satu dapat menjadi kamuflase atas yang lain ketika berhadapan dengan kenyataan dirumah.
24 Desember 2007
Jam: 11.33 wita
