“You’ve Got Mail”

•January 4, 2008 • Leave a Comment

Aku baru saja menontonnya dan pikiran ku dibawanya melayang akan bayanganmu. Seperti awal perkenalan kita yang penuh misteri dan memompa imajenasi kita pada kerinduan sosok terindah.

Namun memang hidup ini bukanlah film dan bukan dunia imajiner yang kita ciptakan lewat komputer, namun hal itu cukup membuat hati ini nyaman dan dipenuhi harapan setiap bangun pagi. Memainkan kesabaran kita untuk melihat isi ‘ inbox‘, adakah e-mail untuk ku hari ini yang dapat menghiasi indahnya hari-hari yang ku lalui.

Aku sadar akan hebatnya dunia maya ini membius ku, memberikan identitas baru yang diimpikan oleh setiap orang. Memanipulasi diri bagai pangeran yang akan datang menjemputmu, kelak menyambut peraduan ditengah bunga yang bermekaran.

Masihkah ada ‘tunah hijau’ itu, setelah semua kutelanjangi diriku bahwa aku bukan pangeran itu? Namun engkau tetaplah putri yang kuimpikan, engkau tetaplah ibu yang akan melahirkan ‘tunas hijau’ itu.

Mungkin aku bermimpi, tapi ini begitu nyata bagiku. Setelah semua jalan hidupku, justru menambah tajam intuisi ku, rasa jiwa ku dan bukan sebaliknya memaksa diri menjadi orang yang selalu mencoba merasionalisasi segala hal. Karena pikiran jenius sekalipun tidak akan dapat menemukan jawaban atas misteri ini. Lihat saja, berapa banyak orang yang pintar di dunia ini, tapi lebih baik kah wajah kemanusiaan? Karena rasa cinta dan kemanusiaan tidak dapat dinilai dengan isi kepala tapi harus disentuh dengan hati.

Aku rindu hangat mu! Ya, aku merindukannya dan membuat ku semakin sadar engkau semakin menjauh. Dan aku tak akan meratapi semua, berjalanlah matahari ku dan simpan dalam-dalam ‘tunas hijau’ yang tak akan pernah terlahir itu. Jika kelak engkau ingin kembali, engkau telah tahu dimana aku. Di sawah yang kusemai dalam hati kita……

31 Desember 2007

Advertisements

Mozaik Tak Terangkai

•December 24, 2007 • Leave a Comment

Hembusan nafas di pagi ini, ditengah hujan dan petir yang menggelegar, memaksa kita untuk tidak beraktifitas diluar rumah. Aku masih duduk dikamar, ditemani sebatang rokok dan kopi, teman setia setiap pagi, menerawang mimpi yang tiada berbekas. Tapi potongan-potongan mimpi itu masih dapat kurangkai dan kuambil benang merahnya. Aku rindu pada kehangatanmu sebelum kita bertemu, aku rindu rangkaian kata mu ketika bercerita, aku rindu desah nafas dan nada suara mu yang tegas…..

Berhenti menekan huruf sambil menghisap tembakau ini dalam-dalam. Mencoba mengalirkan emosi yang bercampur tidak tertata. Sesekali kulirik buku merah pemberianmu yang bertumpuk diantara buku-buku usang diatas meja. Sungguh aku tak tahu mengapa kita harus saling mengenal, mengapa jiwa ini menjadi semakin rapuh….

Aku yang dulu begitu tegar, beku dan tidak pernah hirau dengan emosi jiwa. Aktivitas sosial jauh lebih membuatku puas dan melahirkan harapan pada mata orang yang tadinya muram membuat hidupku bersemangat. Tapi….setelah aku mencoba merangkai hati ini aku menjadi tidak rasional, seperti dua mata belati. Menghias semuanya menjadi semakin indah, atau meleburkan mosaik-mosaik itu menjadi pecahan kaca tak bermakna.

Saat ini aku semakin sadar bahwa engkau bukanlah belahan jiwa yang selama ini kucari. Walau emosi kita terkait, walau perjalanan hidup kita yang mirip, walau engkau mengungkapkan kalau kita adalah ’anak kembar yang terpisah’, aku coba untuk membenamkan semua ungkapan itu. Karena aku sadar jika emosi itu dinamis, apalagi setelah perjumpaan yang sama sekali tidak hangat dan jauh dari imajenasimu. Tapi aku masih punya beberapa janji, meski bukan pada dirimu sendiri. Janji pada ’mama’ untuk datang jika aku ke jakarta….’janji’ untuk menjaga tunas kita sampai engkau putuskan laki-laki itu dengan ’dewasa’….’janji’ akan menunggu waktu yang tepat untuk bersama meski harus tiga tahun lagi……Aku sendiri tidak yakin dapat memenuhi janji ini jika engkau selalu menghindar dan membeku kan diri mu dari segala sesuatu tentang aku. Yang aku butuhkan sekarang adalah engkau berkata, ’benamkan’ atau ’semaikan’…..

Memang tidak mudah memberikan satu pilihan yang sama susahnya, dan terkadang kita ingin merangkul semuanya. Karena akan bermanfaat pada moment-moment tertentu, ataupun satu dapat menjadi kamuflase atas yang lain ketika berhadapan dengan kenyataan dirumah.

24 Desember 2007
Jam: 11.33 wita

Kenyataan Menampar

•December 15, 2007 • Leave a Comment

Tubuh ini memang rapuh,
Dan aku pun mengakui
Jika aku tidak masuk konstruksi rupawan
Serta jauh dari bayanganmu

Tapi,
Mengapa harus bermain rasa
Walau belum bertemu sekalipun
Dan ketika perjumpaan itu datang,
Melebur semua tanpa harapan

Saat ini ku tangisi semua
Aku tidak munafik, aku benar-benar menangis
Setelah sekian lama kuanggap diri teguh
Akhirnya air mata itu menitik kembali

Aku telah membunuh bayi kecil kita
Yang sekarang sedang ku ratapi
Kan kutinggalkan dalam kehampaaan ini
Membekukan semua tanpa rasa

Perkenalan yang hangat
Mengapa harus berakhir dengan kedinginan?
Harapan yang indah
Mengapa menjadi asa kegelapan?

Kutangisi setiap kata yang terungkap
Kuratapi dirimu dalam pertemuan imajiner
Jika engkau memang muak dengan semua ini
Aku bisa pahami karena aku bukan pangeran dalam mimpimu
Aku hanya pemuda biasa, hidup biasa
Sedangkan harapan titik terang yang melangit
Seperti yang terungkap bahwa aku telah siap untuk kecewa
Ya, aku siap untuk kecewa dan kecewaan itu yang sedang kurasakan saat ini

Lagu itu…..
Sayup masih kudengar mengiringi air mata
Menemani langkah ku yang gontai melintasi labirin
Mengisi relung hari ku yang hancur
Memenuhi kehampaan di kepala

Foto mu…
Kutancapkan mata tak berkedip
Kuurai anatomi konflik jiwa ini
Menundukkan kepala dan rambut yang menutup wajahku
Sembari sesekali kuusap air mata

Hidup ini tidak adil pada ku
Aku jenuh dengan rasa tak terbalaskan ini
Apakah ini sebuah karma?
Dari perbuatan ku yang selama ini menutup diri
Membekukan hati ku dari perempuan manapun
Hingga mereka pun kecewa seperti yang kurasakan saat ini
Tapi, bukankah aku tidak pernah membuka harapan
Tidak juga pernah menjanjikan apa-apa atas rasa
Penolakan atas rasa juga kulakukan dengan jujur

Tapi mengapa karma itu datang tidak seimbang?
Setelah aku menjadi gila, tergila-gila pada mu
Kini kau coba untuk sadarkan aku
Kalo aku tidak sedang menapakkan kaki di bumi
Aku pun jatuh dan bertambah gila akan kegilaanku

Alam semesta, ceritakanlah pada anakmu
Misteri apa lagi yang sedang engkau siapkan?
Tidak cukup kuatkah keterpautan rasa kami?
Hingga tidak ada ruang lagi bagiku untuk meminta maaf sekalipun
Hingga tidak ada waktu lagi untukku mengatakan terima kasih
Hingga tidak ada kondisi lagi menyampaikan selamat jalan
Ibu, bukankah lebih baik aku pulang?
Meninggalkan catatan rasa ini
Meleburkan diri dari dunia material ini
Jemputlah aku karena aku telah siap……..

10 Desember 2007

Gaia

•December 15, 2007 • Leave a Comment

ia, aku ga tau mesti nulis apa
aku ingin denger suara kmu

ia, ku mohon jangan kita seperti ini
aku tersiksa dengan keadaan

ia, aku akui perkenalan kita sangat singkat
tapi sampai saat ini aku tidak bisa melepaskan pikiran ku dari bayanganmu

ia, aku memang pemimpi
tapi setidaknya aku juga punya rasa untuk membahagiakanmu

ia, aku bukanlah cenayang
jadi katakanlah kesalahanku pada mu

ia, walau engkau berharap aku pergi dari kehidupanmu
tapi aku adalah seekor anjing yang setia menemani dalam keadaan apapun

ia, jika memang engkau dalam kegelapan
maka raihlah tangan ku kita tuntun langkah kita bersama
jika memang bukan saat ini, kapanpun itu akan aku tunggu…
karena engkau telah menghangatkan tubuh ini
engkau mengetuk pintu hati yang selama ini tertutup rapat
jadi jangan tinggalkan aku dalam keadaan menggigil
jangan campakkan pintu yang telah rapuh ini, ku mohon
katakanlah…katakanlah…katakanlah sesuatu….
akan aku denger dan akan aku benamkan dalam setiap langkah ku

5 Desember 2007
01:57 (saat pikiran melayang tak tentu arah)

Aku Lupa

•November 22, 2007 • Leave a Comment

 Aku lupa bagaimana berbicara

Sehingga hanya terdiam

Aku lupa bagaimana melihat

Sehingga semuanya begitu gelap

Aku lupa bagimana mendengar

Sehingga tidak ada terhirau

Aku lupa bagaimana merasa

Sehingga membeku bagai batu 

Apa yang bisa dilakukan?

Tuntunlah aku kemana seharusnya aku

Jangan pernah berpaling

Hampa, gelap, sunyi dan menggigil

Dan kuberharap engkau tetap memandu

Dengan semerbak harum wangianmu 

Tebet, 23 Juni 2004

Dalam Sangkar Emas

•November 22, 2007 • Leave a Comment

Aku seorang bomenian

Jangan ikat aku

Aku seorang bohemian

Jangan sangkarkan aku

Aku akan tetap pergi dan terbang

Aku seorang bohemian

Kulakukan apapun yang kuinginkan

Tidak ada sekat dalam kemanusiaan

Kita tidak lebih mulia dari mereka 

Buang semua pandangan sebelah mata

Kita semua bersaudara

Kubantu siapapun itu

Jadi jangan larang aku dengan segala aturanmu 

Aku seorang bohemian

Akan segera pergi dari dunia sesak ini

Meningalkan semuaikatan dan sangkar penuh batasan

Aku seorang bohemian

Akan kutemukan duniaku

Penuh persahabatan

Tanpa dogma-dogma dan agitasi buta

Aku akan selamanya bebas

Akan kucari kebebasan ku

Karena aku seorang bohemian 

Kalibata, 22 Juni 2004

Mata Tajam

•November 22, 2007 • Leave a Comment

Jalan….apakah sudah?

Dipersimpangan manakah ini?

Berharap lalui dengan tepat

Tanpa harus berbalik arah

Adakah keraguan itu kembali

Jalan itu begitu asing tanpa temaram

Tetap tinggal atau pergi

Jadi pilihan yang sama sulitnya 

Membakar semua kenangan

Menghayutkan jiwa terlantar

Menghempaskan diri diketerasingan

Cobalah untuk tidak mengharap simpati

Karena telah ada dalam kesia-siaan

Dahulu, sekarang dan akan datang

Tak dapat diletakkan dalam gelas yang sama 

Mengikuti waktu berputar

Jangan ada ikatan

Hingga semua akan sulit dilepas

Temukan saja kelak mata tajam itu

Dimasa depan yang belum tentu datang

Tapi hukum kemungkinan itu menghibur

Tetapa berlaku bagi semua

Karena tidak ada kepastian di bumi ini

Jadi tetaplah berharap pada setiap kemungkinan 

Kalibata, 20 Juni 2004